ARCHAEBACTERIA DAN EUBACTERIA
MAKALAH
ARCHAEBACTERIA DAN EUBACTERIA
Di susun untuk memenuhi salah satu
tugas
Mata
Kuliah: Bahasa Indonesia
Dosen
Pengampu : H.FIMEIR LIADI, M. Pd
DI SUSUN OLEH :
SENDI
OKTA SAPUTRA
NIM:
1701140498
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKARAYA
FAKULTAS
TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
TAHUN
AJARAN 2017/ 2018 M
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur kehadirat Allah Swt atas
segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga Penulis dapat menyelesaikan tugas
makalah yang berjudul “ARCHAEBACTERIA DAN EUBACTERIA” sebagai tugas mata
kuliah Bahasa Indonesia yang baik dan tepat pada waktunya.
Pada
kesempatan ini,Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak H.Fimeir Liadi M.Pd selaku dosen
pengampu pada mata Bahasa Indonesia yang telah memberikan bimbingan kepada
kami, sehingga makalah ini bisa terselesaikan tepat pada waktunya.Penulis
juga berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan
makalah ini.
Melalui
makalah ini, Penulis menjelaskan Pengertian Archaebacteria dan Eubacteria
,ciri-ciri Archaebacteria dan Eubacteria,
Klasifikasi Archaebacteria dan Eubacteria, Reproduksi Archaebacteria
dan Eubacteria dan Peranan
Archaebacteria dan Eubacteria.
Penulis menyadari bahwa masih banyak
kekurangan dalam menyusun makalah ini. Oleh karena itu,Penulis
mengharapkan agar para pembaca bisa memberikan pendapat yang berupa
kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan makalah ini,agar di masa
mendatang penulis dapat membuat makalah yang lebih baik lagi.
Atas perhatian dan waktunya, penulis
sampaikan banyak terima kasih.
Wassalamualaikum Wr.Wb
Palangkaraya,
25 November 2017
Penyusun
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang................................................................................1-2
B.
Rumusan Masalah.............................................................................2
C.
Tujuan...............................................................................................2
BAB II KAJIAN TEORI
A. Archaebacteria dan
Eubacteria........................................................3-5
BAB III PEMBAHASAN
A.
Archaebacteria dan Eubacteria........................................................6-7
B. Ciri-ciri
Archaebacteria dan Eubacteria.........................................7-8
C. Klasifikasi
Archaebacteria dan Eubacteria......................................8-11
D.
Reproduksi Archaebacteria dan Eubacteria.................................11-13
E. Peranan
Archaebacteria dan Eubacteria.........................................13-17
BAB IV
PENUTUP
A.Simpulan............................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setelah kita mempelajari virus sebagai organisme yang belum memiliki sel
sebagai unit kehidupannya, maka pada bab ini kita akan mempelajari makhluk
hidup yang sedikit lebih kompleks dan sudah mempunyai sel meskipun selnya masih
sangat sederhana. Kelompok makhluk hidup tersebut kita kenal dengan Prokariota.
Sesuai dengan namanya, kelompok ini selnya belum mempunyai membran/selaput
inti. Prokariota terbagi menjadi kelompok Arkeobakteria dan Eubakteria yang di
dalamnya termasuk Sianobakteri yang dulu dikenal dengan alga hijau-biru.
Kelompok Eubakteria dahulu kita kenal juga dengan nama Monera.
Prokariota merupakan makhluk hidup yang paling sederhana terdiri atas satu
sel prokariot, yaitu sel yang belum berselaput inti. Virus dan
kelompok ini sering dikenal sebagai kerajaan yang tak terlihat, dalam bahasa
Inggris disebut “The invisible kingdom”. Disebut demikian karena virus dan
prokariota merupakan makhluk hidup yang sangat kecil yang tidak dapat diamati
secara langsung dengan mata telanjang, tetapi benar-benar ada dan sangat banyak
jumlahnya. Tubuh kita merupakan salah satu tempat hidup dari berjuta-juta
makhluk hidup yang tak terlihat itu. Makhluk-makhluk tersebut dapat ditemukan
hampir pada semua lingkungan di bumi ini baik di air, tanah, atau udara.
Keberadaan kelompok makhluk hidup tersebut pada lingkungan yang begitu luas
menunjukkan bahwa mereka mempunyai peran penting dalam ekosistem bumi. Lebih
dari 2.000 spesies Eubakteria berperan penting dalam ekologi maupun dalam
kehidupan sehari-hari. Mereka dapat menguraikan materimateri organik sehingga
terjadi siklus materi. Khususnya bakteri, juga sangat berperan dalam fiksasi
nitrogen, yaitu gas nitrogen di udara yang tadinya tidak dapat diserap makhluk
hidup, diubah menjadi amonia atau ammonium yang mudah dimanfaatkan makhluk
hidup lain melalui tumbuhan. Prokariota khususnya Eubakteria juga dapat
melakukan fermentasi menghasilkan bahan makanan yang lebih enak, dan lebih
tinggi nilai gizinya, seperti yang dicontohkan di atas. Selain itu, bakteri
dapat dimanfaatkan dalam pengolahan limbah, penyamakan kulit dan tekstil,
pemisahan bahan tambang dari bijinya dan fungsi-fungsi lain yang tidak kalah
penting.
Keberhasilan makhluk hidup ini untuk hidup di segala lingkungan disebabkan
oleh kecepatan reproduksi yang tinggi dan kemampuan metabolisme yang beraneka
ragam. Dalam kondisi yang baik, bakteri dapat menambah jumlahnya hingga dua
kali lipat hanya dalam waktu setengah jam. Dalam makalah ini kita akan membahas
konsep-konsep penting tentang Archaebakteria dan Eubakteria.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud Archaebacteria
dan Eubacteria ?
2. Bagaimanakah Ciri-ciri
Archaebacteria dan Eubacteria ?
3. Bagaimanakah
Klasifikasi Archaebacteria dan Eubacteria ?
4. Bagaimanakah
Reproduksi Archaebacteria dan Eubacteria ?
5. Bagaimanakah Peranan
Archaebacteria dan Eubacteria ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui
pengertian Archaebacteria dan Eubacteria.
2. Untuk mengetahui
Ciri-ciri Archaebacteria dan Eubacteria.
3. Untuk mengetahui
Klasifikasi Archaebacteria dan Eubacteria.
4. Untuk mengetahui
Reproduksi Archaebacteria dan Eubacteria.
5. Untuk mengetahui
Peranan Archaebacteria dan Eubacteria
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Archaebacteria
dan Eubacteria
1.
Archaebacteria
Archaebacteria adalah organisme yang metabolisme energi khasnya membentuk
gas metana (CH4) dengan cara mereduksi karbon dioksida (CO2),dinding sel bukan
peptidoglikan, mikroskopik, uniseluler, dan berbeda dengan Eubacteria secara biokimia. Archaebacteria bersifat anaerobik dan
kemosintetik. Nama “archaebacteria,” dengan awalannya yang berarti “kuno,”
menunjukkan bahwa ini adalah kelompok yang sangat tua. Archaebacteria adalah
kelompok bakteri yang dinding selnya tidak mengandung peptidokglikan, namun
membran plasmanya mengandung lipid. Archaebacteria ini hidup di lingkungan yang
ekstrim. Archebacteria meliputi organisme autotrof dan heteotrof. Archaebacteria
terdiri dari bakteri metanogen, Halofil
extreme, dan Termofil extreme yang hidup di tempat-tempat kritis atau ekstrim,
seperti misalnya bakteri yang hidup di air panas, bakteri yang hidup di tempat
berkadar garam tinggi, dan bakteri yang hidup di tempat yang panas atau asam,
di kawah gunung berapi, dan di lahan gambut. (Nunung Nurhayati, Mukhlis, &
Agus Jaya. (2014;5).
A. Ciri-Ciri
umum Archaebacteria:
a. Ukuran archaebacteria 0,1-15 mikron dan memiliki
dinding sel
b. Dinding sel terdiri dari polisakarida dan
protein bukan peptidoglikan
d. Archaebacteria adalah organisme uniseluler prokariotik
(tidak memiliki nukleus dan membran inti sel).
d. Asam nukleat archaebacteria berupa RNA dan
dapat tinggal di lingkungan ekstrim: lingkungan dengan derajat keasaman, suhu,
dan kadar garam yang sangat tinggi.
e. Reproduksi dengan cara pembelahan biner, pembentukan tunas, dan
fragmentasi.
2. Eubacteria
Eubacteria
adalah bakteri yang inti organelnya tidak terdapat membran, bersifat prokariot,
mikroskopik, uniseluler dan memiliki dinding sel yang tersususn atas
peptidoglikan.Eubacteria biasa disebut sebagai "bakteri sejati,"
membedakannya dari Archaeobacteria, organisme yang serupa dengan beberapa
perbedaan genetik dan gaya hidup yang signifikan. Sebagian besar organisme yang
kita anggap sebagai “bakteri” adalah Eubacteria, dari sepupu Arkean mereka
lebih memilih hidup di lingkungan yang ekstrim seperti pembangkit listrik
tenaga nuklir dan ventilasi hidrotermal.Dalam rangka untuk menyelidiki definisi
Eubacteria, pertama-tama perlu untuk membahas detail dari klasifikasi ilmiah.
Eubacteria berada di jantung perdebatan serius dalam klasifikasi ilmiah yang
membentuk kembali hirarki tradisional “Kingdom, Filum, Kelas, Ordo, Famili,
Genus, dan Spesies.” Awalnya, Eubacteria dianggap bagian dari kerajaan
Prokaryota, biasa disebut “Monera,” bersama dengan kerabat mereka yang
Archaebacteria.
A. Ciri-ciri
umum eubacteria adalah sebagai berikut:
a. Eubacteria adalah organisme
Uniseluler prokariotik dan memiliki dinding sel yang tersusun atas
peptidoglikan (gula dan protein).
b. Ukuran tubuh Eubacteria
sekitar 1 – 5 mikron
c. Eubacteria
Berkembang biak dengan cara membelah diri, konjugasi, transformasi dan
transduksi (pemindahan sebagian materi genetik melalui perantara virus).
d. Eubacteria Dapat mensekresikan
lendir ke permukaan dinding sel membentuk Kapsul.
e. Ada Eubacteria yang memiliki
flagel dan ada juga Eubacteria yang tidak memiliki flagel
f. Eubacteria Hidup kosmopolitan,
artinya dapat hidup di segala tempat, misalnya di darat, udara, air, bahkan
tubuh manusia
g. Apabila berada di lingkungan yang
kurang menguntungkan Eubacteria akan membentuk endospora.
Organisme
prokariotik seperti bakteri terutama ditentukan oleh ketiadaan inti sel. Hal
ini membuat mereka berbeda dari evolusi organisme hidup lainnya, dan telah
menyebabkan sejumlah adaptasi yang inovatif. Banyak prokariota juga bersel
tunggal, meskipun hal ini tidak selalu merupakan persyaratan untuk keanggotaan
pada kerajaan ini. Selain kerajaan Prokaryota, ahli biologi juga
diklasifikasikan organisme dalam Animalia, Fungi, Plantae, dan Protista.
Berikut ini
kelas-kelas Eubacteria seperti kelas Azotobacteraceae, kelas Micrococcaceae,
kelas Rhizobiaceae, kelas Neisseriaceae, kelas Bacillaceae, kelas
Lactobacillaceae, dan kelas Enterobacteriaceae. (Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009 ; 290)
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Archaebacteria dan Eubacteria
Archaebacteria adalah organisme yang metabolisme
energi khasnya membentuk gas metana (CH4) dengan cara mereduksi karbon dioksida
(CO2), dinding sel bukan peptidoglikan, mikroskopik, uniseluler, dan berbeda
dengan Eubacteria secara biokimia. Archaebacteria bersifat anaerobik dan
kemosintetik. Nama “archaebacteria,” dengan awalannya yang berarti “kuno,”
menunjukkan bahwa ini adalah kelompok yang sangat tua. Archaebacteria adalah
kelompok bakteri yang dinding selnya tidak mengandung peptidokglikan, namun
membrane plasmanya mengandung lipid. Archaebacteria ini hidup di lingkungan
yang ekstrim. Archaebacteria terdiri dari bakteri-bakteri yang hidup di
tempat-tempat kritis atau ekstrim, misalnya bakteri yang hidup di air panas,
bakteri yang hidup di tempat berkadar garam tinggi, dan bakteri yang hidup di
tempat yang panas atau asam, di kawah gunung berapi, dan di lahan gambut.
Eubacteria adalah Bakteri yang inti dan
organelnya tidak terdapat membran, bersifat prokariot, mikroskopik, uniseluler
dan memiliki dinding sel yang tersusun atas peptidoglikan. Eubacteria biasa disebut
sebagai "bakteri sejati," membedakannya dari Archaeobacteria,
organisme yang serupa dengan beberapa perbedaan genetik dan gaya hidup yang
signifikan. Sebagian besar organisme yang kita anggap sebagai “bakteri” adalah
Eubacteria, dari sepupu Arkean mereka lebih memilih hidup di lingkungan yang
ekstrim seperti pembangkit listrik tenaga nuklir dan ventilasi hidrotermal.
Dalam rangka
untuk menyelidiki definisi Eubacteria, pertama-tama perlu untuk membahas detail
dari klasifikasi ilmiah. Eubacteria berada di jantung perdebatan serius dalam
klasifikasi ilmiah yang membentuk kembali hirarki tradisional “Kingdom, Filum,
Kelas, Ordo, Famili, Genus, dan Spesies.” Awalnya, Eubacteria dianggap bagian
dari kerajaan Prokaryota, kadang-kadang disebut “Monera,” bersama dengan
kerabat mereka yang Archaebacteria. Organisme prokariotik seperti bakteri
terutama ditentukan oleh ketiadaan inti sel. Hal ini membuat mereka berbeda
dari evolusi organisme hidup lainnya, dan telah menyebabkan sejumlah adaptasi
yang inovatif. Banyak prokariota juga bersel tunggal, meskipun hal ini tidak
selalu merupakan persyaratan untuk keanggotaan pada kerajaan ini. Selain
kerajaan Prokaryota, ahli biologi juga diklasifikasikan organisme dalam
Animalia, Fungi, Plantae, dan Protista.
B. Ciri-ciri
Archaebacteria dan Eubacteria
1. Ciri-ciri Archaebacteria
Prokariota
terbagi menjadi dua domain: archaea dan bakteri. Kita pertama-tama akan melihat
archaebacteria. Archaebacteria adalah prokariota pertama dan tinggal di
lingkungan yang ekstrim. Secara Evolusioner, mereka memiliki beberapa hal yang
sama dengan bakteri dan beberapa hal dengan organisme eukariotik (seperti
kita). Meskipun mereka adalah organisme yang pertama dikenal hidup di bumi,
mereka masih ada, dan kita terus belajar lebih banyak tentang organisme luar
biasa ini yang hidup di lingkungan yang umumnya kita menganggap tidak mungkin
untuk dihuni. Archaea dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan lingkungan di
mana mereka tinggal.
A. Ciri-Ciri umum Archaebacteria:
a. Ukuran archaebacteria 0,1-15
mikron.
b. Archaebacteria memiliki
dinding sel.
c. Dinding sel terdiri dari
polisakarida dan protein bukan peptidoglikan
d. Archaebacteria adalah
organisme uniseluler prokariotik (tidak memiliki nukleus dan membran inti sel).
e. Asam nukleat
archaebacteria berupa rna.
f. Archaebacteria dapat
tinggal di lingkungan ekstrim: lingkungan dengan derajat keasaman, suhu, dan
kadar garam yang sangat tinggi.
g. Reproduksi dengan cara
pembelahan biner, pembentukan tunas, fragmentasi
2. Ciri-ciri
Eubacteria (Bakteri Sejati).
Kelompok
kedua prokariota adalah nama yang lebih akrab bagi Anda. Kerajaan Eubacteria
adalah bakteri yang sejati. Mereka memiliki peran yang tak terhitung jumlahnya,
termasuk dekomposisi dan daur ulang nutrisi, pencernaan dan penyakit.
A. Ciri-ciri umum eubacteria adalah
sebagai berikut:
a. Eubacteria
adalah organisme Uniseluler prokariotik
b. Eubacteria
dinding sel yang tersusun atas peptidoglikan (gula dan protein)
c. Ukuran tubuh
Eubacteria sekitar 1 – 5 mikron
d. Eubacteria Berkembang
biak dengan cara membelah diri, konjugasi , transformasi dan transduksi
(pemindahan sebagian materi genetik melalui perantara virus).
e. Eubacteria Dapat
mensekresikan lendir ke permukaan dinding sel membentuk Kapsul.
f. Ada Eubacteria
yang memiliki flagel dan ada juga Eubacteria yang tidak memiliki flagel
g. Eubacteria Hidup
kosmopolitan, artinya dapat hidup di segala tempat, misalnya di darat, udara,
air, bahkan tubuh manusia
h. Apabila berada di
lingkungan yang kurang menguntungkan Eubacteria akan membentuk endospora.
C. Klasifikasi
Archaebacteria dan Eubacteria
1. Klasifikasi Archaebacteria
Archaebacteria
banyak ditemukan hidup di lingkungan ekstrim seperti di sumber air panas,
telaga garam, bahkan dalam saluran pencernaan hewan ruminansia (sapi, domba).
Berdasarkan lingkungan yang ekstrim Archaebacteria dibedakan menjadi 3
kelompok :
A. Metanogen
Kelompok ini
merupakan archaebacter yang menghasilkan gas metana (CH4) dari hasil reduksi
karbondioksida. Metanogen hidup di tempat dimana tidak terdapat gas oksigen
yaitu di dasar lumpur atau dapat mengadakan simbiosis dengan hewan – hewan
herbivora (sapi, rayap). Metanogen sangat tidak dapat mentolerir keberadaan
oksigen. Organisme ini akan mati jika di habitatnya terdapat oksigen, meski
hanya sedikit. Lingkungan anaerob obligat adalah syarat penting bagi kelompok
metanogen. Kemampuannya menghasilkan metana, bakteri ini sering dimanfaatkan
dalam pembuatan atau penguraian kotoran atau sampah untuk menghasilkan metana.
Adapun ciri – ciri metanogen ialah:
a). Anaerob obligat
Biasa ditemukan di dasar rawa atau di dalam perut
hewan herbivora. Akan mati jika terdapat oksigen.
b). Menghasilkan metana (CH4)
Metana
merupakan senyawa buangan dari metabolisme karbondioksida menjadi makanan.
Metana buangan archaebacteria dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar
(Biogas).
c). Berperan sebagai pengurai(dekomposer)
atau pembusuk.
B. Halofil extreme
Kelompok ini
merupakan penghuni wilayah lautan dengan kadar garam yang sangat tinggi seperti
laut mati, Great Salt Lake (Bahasa Yunani, halo= garam; philos= penyuka).
Beberapa spesies kelompok ini memiliki pigmen merah orodopsin. Sehingga koloni
kelompok ini terlihat seperti buih yang berwarna merah keunguan. Berbeda dengan
methanogen, kelompok halofil memerlukan oksigen untuk respirasi. Sementara
kecukupan nutrisi diperoleh dengan melakukan fotosintesis dengan pigmen merah
yang dimilikinya. Ciri–ciri halofil:
a). Habitat: perairan dengan kadar
garam tinggi
b). Aerobik dan fotosintetik
c). Termofil extreme
Termofil
berasal dari Bahasa Yunani, termo artinya panas, sementara phylos artinya ialah
penyuka. Archae jenis ini dapat ditemukan di wilayah – wilayah terpanas bumi,
dengan suhu optimum antara 60°C sampai 80°C. Kelompok Sulfolobus (bakteri
Sulfur) misalnya ditemukan pada sumber mata air panas yang banyak mengandung
sulfur atau di lereng gunung berapi dengan suhu optimum mencapai 105°C.
Kelompok ini memiliki DNA dengan komposisi pasangan basa nitrogen sitosin –
guanin yang banyak, sehingga tahan panas. Kelompok ini merupakan kemoautotrof.
Ciri umum termofil ialah:
a) Hidup di wilayah dengan
suhu diatas 60°C
b) Kemoautotrof
Beberapa kelas dalam Eubacteria
adalah sebagai berikut :
a. Kelas Azotobacteraceae
Ciri-ciri yang
dimiliki oleh bakteri kelas Azotobacteraceae Adalah sel berbentuk
batang, hidup bebas di dalam tanah, mirip sel khamir,dan pada kondisi aerob
dapat menambat Misalnya, Azotobacter chlorococcum, Azotobacter indicus,
dan Azotobacter agilis.
b. Kelas Rhizobiaceae
Ciri-ciri bakteri
kelas Rhizobiaceae adalah sel. Berbentuk batang atau bercabang, bersimbiosis
dengan legominosae membentuk bintil akar, dan mengonversi nitrogen udara
yang dapat bermanfaat bagi tumbuhan leguminosae. Misalnya, Rhizobium
leguminosarum Membentuk bintil akar pada akar Lathyrus, Pisum, Vicia
Rhizobium japonicum Pada kedelai Agrobacterium tumefaciens
menimbulkan pembengkakan pada akar pohon.
c. Kelas Micrococcaceae
Ciri-ciri bakteri
kelas Micrococcaceae adalah sel berbentuk ,berbentuk koloni tetrade,
serta kubus dan massa tidak beraturan. Contohnya, Sarcia dan Staphyloccus
aureus yang bersifat patogen serta dapat menimbulkan berbagai penyakit.
d. Kelas Enterobacteriaceae
Kelas Eubacteria yang terdapat dalam
kelas Enterobacteriaceae menimbulkan fermentasi anaerobik pada glukosa atau
laktosa, hidup sebagai dekomposer pada serasah atau patogen pada manusia, luran
pernapasan dan saluran kencing Vertebrata. Contohnya E.coli yang terdapat di
usus besar manusia dan Vertebrata; Salmonela Typhosa yaitu patogen penyebab
penyakit tifus; serta Shigella Dysenteriae penyebab disentri.
e. Kelas Lactobacillaceae
Lactobacillaceae
berbentuk peluru dan dapat menimbulkan asam laktat. Contohnya, Lactobacillus
caucasicus Yang membantu pembuatan yogurt; Streptococcus pyogenes yang
dapat menimbulkan nanah atau keracunan darah pada manusia; serta Diplococcus
pneumonia sebagai penyebab pneumonia.
f. Kelas Bacillaceae
Sel Bacillaceae berbentuk batang dan
berfungsi sebagai pembentuk endospora. Misalnya, Bacillus antraks penyebab
penyakit antraks dan Clostridium pasteurianum yaitu bakteri anaerob.
g. Kelas Neisseriaceae
Sel Neisseriaceae berbentuk peluru
dan umumnya n.Misalnya, Neisseria meningitidis yaitu bakteri penyebab
meningitis;Neisseria gonorrhoeae penyebab penyakit kencing nanah; serta Veillonella
parvula berada di mulut dan saluran pencernaan manusia dan hewan.
D. Reproduksi
Archaebacteria dan Eubacteria
1. Reproduksi Archaebacteria
Seperti
bakteri, reproduksi Archaebacteria adalah aseksual. Archaebacteria dapat
mereproduksi melalui pembelahan biner, di mana sel induk membelah menjadi dua
sel anak yang identik secara genetik. Archaebacteria juga dapat bereproduksi secara
aseksual melalui tunas dan fragmentasi, di mana potongan-potongan sel pecah dan
membentuk sel baru, juga memproduksi organisme identik secara genetik.
2. Reproduksi Eubacteria
Bakteri dapat berkembang biak secara vegetatif (aseksual) maupun generatif
(seksual).
A. Reproduksi secara Aseksual
Bakteri dapat berkembang biak secara
aseksual dengan membelah diri (pembelahan biner) pada lingkungan yang tepat
atau sesuai. Reproduksi bakteri dapat berlangsung dengan sangat cepat. Pada
keadaan optimal, beberapa jenis bakteri dapat membelah setiap 20 menit. Anda
bisa menghitung jumlah bakteri hasil reproduksi dalam waktu 1 jam atau 1
hari, dengan rumus 2n (n jumlah pembelahan). Pada kondisi yang
kurang menguntungkan, sel-sel bakteri dapat mempertahankan diri dengan
pembentukan spora (endospora). Endospora artinya spora yang
terbentuk di dalam bakteri. Akan tetapi, ada pula jenis bakteri yang akan mati
karena perubahan faktor lingkungan. Faktor lingkungan ini adalah cahaya
matahari yang terus-menerus, kenaikan suhu, kekeringan, dan adanya zat-zat
penghambat dan pembunuh bakteri, seperti antibiotika dan desinfektan.
B. Reproduksi secara Seksual
Bakteri tidak melakukan pembiakan
seksual yang sebenarnya, seperti yang terjadi pada makhluk hidup eukariot,
karena bakteri tidak mengalami penyatuan sel kelamin. Meskipun demikian, pada
bakteri terjadi pertukaran materi genetik dengan sel pasangannya. Oleh karena
itu, perkembangbiakan bakteri yang terjadi dengan cara ini disebut
perkembangbiakan paraseksual. Perkembangbiakan parasekual bakteri dapat
terjadi dengan tiga cara, yaitu transformasi, konjugasi, dan transduksi.
a). Transformasi adalah
pemindahan potongan materi genetik atau DNA dari luar ke sel bakteri penerima.
Dalam proses ini, tidak terjadi kontak langsung antara bakteri pemberi DNA dan
penerima. Contoh : Streptococcus pneumonia, Bacillus, Haemopphilus,
Neisseria dan Pseudomonas.
b). Konjugasi adalah pertukaran materi
genetik dengan cara membentuk bangunan/ jembatan/selubung untuk menyalurkan
materi genetiknya, atau reproduksi bakteri yang belum diketahui jenis
kelaminnya.
c). Transduksi adalah
pemindahan DNA dari sel pemberi ke sel penerima dengan perantaraan virus. Dalam
hal ini, protein virus yang berfungsi sebagai cangkang digunakan untuk
pembungkus dan membawa DNA bakteri pemberi menuju sel penerima.
E. Peranan Archaebacteria dan Eubacteria
A. Peranan
Archaebacteria bagi Kehidupan Manusia
a. Enzim dari Archaebacteria ditambahkan ke dalam sabun cuci
atau detergen untuk meningkatkan kemampuan sabun cuci dan deterjen pada suhu
dan pH tinggi.
b. Beberapa enzim Archaebacteria juga digunakan dalam industri
makanan untuk mengubah pati jagung menjadi dekstrin (sejenis
karbohidrat).
c. Beberapa jenis Archaebacteria digunakan untuk mengatasi
pencemaran, misalnya tumpahan minyak.
B. Peranan Eubacteria bagi Kehidupan Manusia
Seperti telah
disinggung pada bagian sebelumnya, bakteri mempunyai peran yang dapat
berlawanan. Di satu sisi bakteri dapat merugikan, tetapi disisi lain juga dapat
sangat menguntungkan.
a. Bakteri yang merugikan
Penyakit pada manusia yang
ditimbulkan bakteri cukup beragam. Penyakit yang ditimbulkan dapat menyerang
berbagai organ tubuh mulai dari kulit sampai ke otak. Beberapa contoh penyakit
pada manusia yang disebabkan oleh bakteri dapat dilihat pada berikut :
Tabel II.1 Beberapa Penyakit yang Disebabkan Bakteri
Nama
Penyakit
|
Bakteri
Penyebab
|
Demam Tiphoid
|
Salmonella
typhi
|
Kolera
|
Vibrio
chloreae
|
Disentri
|
Shigella
dysentriae
|
Keracunan makanan
|
Clostridium
Staphylococcus sp.
|
Traveler diare
|
Escherichia
coli
|
Tifus
|
Rickettsia
typhi
|
Demam Q
|
Coloiella
burntii
|
Plague
|
Pasteurella
pestis
|
Dipteri
|
Corynebacterium
diphtheriae
|
Tubercolosis (TBC)
|
Mycobacterium
tubercolosis
|
Meningitis
|
Neisseria
meningitis
|
Demam Scarlet (Demam rematik)
|
Streptococcus
pneumoniae
|
Tonsilitis
|
Streptococcus
sp.
|
Gonorea
|
Neisseria gonorrhoea
|
Sipilis
|
Treponema
pallidum
|
Tetanus
|
Clostridium
tetani
|
Gas gangren
|
Clostridium
perfringens
|
Bakteri dapat menimbulkan penyakit dengan berbagai cara. Cara yang pertama
adalah bakteri dapat menyebabkan iritasi atau luka. Selain itu, bakteri juga
dapat secara langsung menghancurkan sel inangnya sehingga sel inang menjadi
rusak. Cara berikutnya adalah dengan menghasilkan racun yang dapat mengganggu
metabolisme sel inang. Karena bakteri dapat merugikan manusia dengan berbagai
sifat di atas, saat ini manusia memanfaatkan sifat-sifat tersebut untuk membuat
senjata biologis. Contoh bakteri yang digunakan sebagai senjata biologis,
misalnya Bacillus anthracis, penyebab penyakit antraks.
Penanggulangan penyakit yang disebabkan bakteri pada umumnya menggunakan
zat yang disebut antibiotik. Antibiotik dapat diproduksi dari monera lain atau
dari jamur. Contoh antibiotik yang terkenal, misalnya penisilin, tetrasiklin,
dan sefalosporin. Tabel II 2. menunjukkan beberapa antibiotika dan organisme
penghasilnya.
Tabel II.2 Beberapa Antibiotik dan Organisme Penghasilnya
Macam
Antibiotik
|
Organisme
Penghasil
|
Kelompok
|
Penisillin
|
Penicillium
notatum
|
Fungi/Jamur
|
Griseofulvin
|
Penicillium
griseovulvum
|
Fungi/Jamur
|
Streptomisin
|
Streptomyces
griseus
|
Actynomycetes
|
Chloramphenicol
|
Streptomyces
venezuelae
|
Actynomycetes
|
Tetrasiklin
|
Streptomyces
aerofaciens
|
Actynomycetes
|
Colistin
|
Bacillus
colistinus
|
Bakteri
|
Polomiksin
B
|
Bacillus
polymxa
|
Bakteri
|
Bakteri juga dapat menyerang hewan ataupun tumbuhan. Contoh bakteri yang
menyebabkan penyakit pada hewan adalah Salmonella. Bakteri ini dapat
menyebabkan keracunan pada babi atau unggas karena dapat menghasilkan racun.
Bakteri yang menyerang tumbuhan, di antaranya Agrobacterium tumifaciens
menyebabkan penyakit crown gall pada tanaman buah-buahan.
Secara tidak langsung bakteri juga dapat merugikan manusia karena dapat
merusak bahan pokok kebutuhan manusia. Makanan sebagai bahan pokok kebutuhan
manusia, merupakan media yang baik bagi pertumbuhan bakteri. Oleh karena itu,
untuk mempertahankan agar makanan tidak rusak oleh bakteri perlu dilakukan
proses yang disebut sterilisasi. Sterilisasi adalah suatu usaha membebaskan
alat-alat atau bahan-bahan dari segala macam bentuk kehidupan atau kontaminasi
terutama oleh mikroba. Sterilisasi dapat dilakukan dengan berbagai macam cara.
Secara fisik, misalnya dengan pemanasan, sinar ultraviolet, dan sinar X; secara
mekanis, misalnya dengan cara penyaringan; secara kimia dengan menggunakan
desinfektan. Sterilisasi yang paling banyak digunakan biasanya adalah dengan
cara pemanasan. Sterilisasi dengan pemanasan biasanya menggunankan tekanan atm
dan suhu 121 derajat, selama 15 menit. Dengan proses ini, bakteri bersama
sporanya akan mati sehingga makanan menjadi lebih tahan lama.
b. Bakteri menguntungkan
Seperti
telah dikemukakan, peran menguntungkan bakteri lebih banyak daripada peran
merugikan. Sembilan puluh sembilan persen (99%) bakteri justru dapat memberikan
manfaat bagi organisme lain khususnya manusia. Salah satu manfaat bakteri
adalah dalam proses penguraian makhluk hidup yang telah mati. Melalui proses
ini, bakteri bersama dengan jamur memecah materi organik menjadi materi
anorganik. Sebagai contoh, protein yang tadinya bersifat organik dapat diubah
menjadi senyawa nitrat (NO3) yang bersifat anorganik. Contoh bakteri yang dapat
melakukan penguraian protein menjadi nitrat adalah Nitrosomonas dan
Nitrobacter. Nitrat oleh tumbuhan kemudian dipakai sebagai bahan baku pembentuk
protein. Protein dipakai untuk menyusun tubuh tumbuhan dan hewan. Tubuh
tumbuhan dan hewan yang telah mati, kemudian diuraikan lagi oleh bakteri
menjadi senyawa nitrat. Dengan demikian, terjadi suatu siklus materi.
Kegunaan
lain dari bakteri adalah dapat menambat senyawa nitrogen dari udara. Peran ini
penting karena kebutuhan nitrogen tidak cukup hanya dipenuhi dari tanah sebagai
hasil proses penguraian di atas. Bakteri dapat memfiksasi atau menambat
nitrogen dari udara dengan cara bersimbiosis dengan akar tumbuhan
kacang-kacangan atau dengan membentuk bintil akar. Dalam simbiosis ini bakteri
menyediakan nitrat yang dibutuhkan tumbuhan, sedangkan tumbuhan menyediakan
bahan makanan untuk menunjang hidup bakteri. Contoh bakteri semacam ini adalah
Rhizobium.
Bakteri juga
dimanfaatkan dalam industri lain, seperti pembuatan asam cuka dari fermentasi
alkohol yang dilakukan oleh bakteri Acetobacter. Selain itu, bakteri juga
digunakan dalam produksi berbagai macam enzim, misalnya enzim glukosa isomerase
diproduksi oleh bakteri Bacillus subtilis. Beberapa produk yang dihasilkan
bakteri dapat dilihat pada Tabel berikut :
Tabel II.3 Beberapa Produk Industri yang Dihasilkan
Bakteri
Produk
|
Bakteri
Penghasil
|
Manfaat
Produk
|
Enzim
protease
|
Bacillus
subtilis
|
Pelunak daging
|
Butano dan
aseton
|
Clostridium
acetobulylicom
|
Pelarut
|
Indigo
|
Escherichia
coli
|
Pewarna
tekstil
|
Xanthan
gum
|
Xanthomonas
campestris
|
Penggumpal
makanan,cat, dan kosmetik
|
Cynocobalamin
(Vit. B12)
|
Proionbacterium
shermanii
|
Makanan
tambahan (food suplement)
|
Gelan
|
Pseudomonas
sp.
|
Penggumpal
makanan
|
Asam
glutamat
|
Corynobacterium
glutamicum
|
Penyedap
rasa
|
Interferon
|
Escherichia
coli
|
Pengobatan
infeksi virus
|
Enzim yang
terdapat dalam beberapa bakteri juga dapat dimanfaatkan untuk menguraikan selulosa
menjadi CO2 dan CH4. CH4 atau gas metan sering disebut biogas. Biogas kini
telah banyak digunakan sebagai bahan bakar alternatif.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
1. Nama
“archaebacteria,” dengan awalannya yang berarti “kuno,” menunjukkan bahwa ini
adalah kelompok yang sangat tua. Archaebacteria adalah organisme yang
metabolisme energi khasnya membentuk gas metana (CH4) dengan cara mereduksi
karbon dioksida (CO2), dinding sel bukan peptidoglikan, mikroskopik,
uniseluler, dan berbeda dengan Eubacteria secara biokimia. Sedangkan Eubacteria
biasa disebut sebagai "bakteri sejati," membedakannya dari
Archaeobacteria, organisme yang serupa dengan beberapa perbedaan genetik dan
gaya hidup yang signifikan..Eubacteria adalah Bakteri yang inti dan organelnya
tidak terdapat membran,bersifat prokariot, mikroskopik, uniseluler dan memiliki
dinding sel yang tersusun atas peptidoglikan..
2. Ciri-Ciri
umum Archaebacteria diantaranya : Ukuran archaebacteria 0,1-15
mikron, Sedangkan ciri-ciri umum eubacteria diantaranya adalah sebagai berikut:
Ukuran tubuh Eubacteria sekitar 1-5 mikron.
3. Berdasarkan
lingkungan yang ekstrim Archaebacteria dibedakan menjadi 3 kelompok :
Metanogen, Halofil extreme dan Termofil extreme. Beberapa kelas dalam Eubacteria
adalah sebagai berikut : Kelas Azotobacteraceae, Kelas Rhizobiaceae, Kelas
Micrococcaceae, Kelas Enterobacteriaceae, Kelas Lactobacillaceae, Kelas
Bacillaceae dan Kelas Neisseriaceae.
4. Archaebacteria
bereproduksi secara aseksual melalui pembelahan biner, fragmentasi, atau tunas.
Eubacteria dapat berkembang biak secara vegetatif (aseksual) maupun
generatif (seksual). Perkembangbiakan parasekual bakteri dapat terjadi dengan
tiga cara, yaitu transformasi, konjugasi, dan transduksi.
5. Seperti
telah disinggung pada bagian sebelumnya, bakteri mempunyai peran yang dapat
berlawanan. Di satu sisi bakteri dapat merugikan, tetapi disisi lain juga dapat
sangat menguntungkan.
DAFTAR
PUSTAKA
Hidayat, SKS
Biologi SMA Kelas X, XI, & XII, Yogyakarta: Cakrawala, 2014
Mochamad Indrawan. (2007). Biologi
Konservasi. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
Nunung Nurhayati, Mukhlis, &
Agus Jaya. (2014). Biologi untuk SMA/MA Kelas X. (cetakan ke-1;hlm.5).
Bandung : Yrama Widya.
Widayati, S., S. N. Rochmah dan
Zubedi. 2009. Biologi : SMA dan MA Kelas X. Pusat Perbukuan, Departemen
Pendidikan Nasional, Jakarta, hlm. 290.
Komentar
Posting Komentar